Berkat usah bapak, kita bisa makan ikan mujair
Sponsored Ad

Mungkin untuk orang Indonesia nama dan rasa dari ikan Mujair sudah tidak asing lagi. Bahkan Ikan mujair ini sudah mendunia. Namun, ternyata Ikan ini merupakan hasil rekayasa orang Indonesia.

 

Ikan mujair sendiri ditemukan oleh orang Indonesia asli, yang gigih dan penemuannya kemudian dikenal mendunia. Dan ternyata bukan hanya sekedar cerita rakyat atau gurauan belakan. Ikan ini merupakan hasil rekayasa manusia, karena hakikatnya ikan mujair adalah ikan air laut/air payau, namun setelah direkayasa mujair dapat hidup di air tawar.

 

 

Ikan Mujair ini ternyata memiliki sejarah dan asal usul yang menarik. Awalnya ikan ini bernama Iwan Dalauk (1890-1957), namun ia lebih dikenal dengan nama penemunya yaitu Mbah Moedjair.

 

Mbah Moedjair adalah orang indonesia asli yang lahir pada tahun 1890 di desa Kuningan (3 km arah timur dari pusat kota Blitar, Jawa Timur). Dia menikah dengan Partimah dan memiliki 7 orang anak.

 

Semasa hidupnya Beliau memiliki sebuah warung sate yang sangat populer di kalangan masyarakat Blitar. Namun bangkrut karena kebiasaan buruknya yang senang berjudi hingga membuatnya terpuruk. Ditengah keterpurukannya itu kepala desa Papungan, Pak Muraji mengajaknya melakukan tirakat di Pantai Serang, setiap tanggal 1 Suro penanggalan Jawa.

 

Dari pantai inilah dirinya menemukan sekelompok ikan yang menarik perhatiannya. Pasalnya, Ikan tersebut sangat unik, mereka menyembunyikan anak-anaknya di mulut pada saat terancam bahaya. Karena ketertarikannya ia membawa beberapa ekor kerumahnya untuk dipelihara.

 

 

Sayangnya, karena habitat asalnya dilaut, ikan yang dia bawa dari pantai tersebut tidak bisa bertahan hidup di air tawar. Namun, Mbah Moedjair semakin penasaran dan bertekad membuat ikan baru itu bisa hidup di air tawar, hingga beliau mulai rajin melakukan riset dengan mulai merubah-rubah komposisi air tawar dan air laut hingga menemukan campuran yang tepat untuk memelihara ikan baru ini.

 

Dan kegigihannya ternyata tidak sia sia, pada percobaan ke-11 akhirnya dia berhasil dengan 4 ekor ikan. Hebatnya, untuk setiap percobaan, Mbah Moedjair ini harus pulang pergi ke Pantai Serang dari desa Papungan yang jaraknya 35km dengan berjalan kaki melintasi hutan, selama dua hari, pulang dan pergi.

 

Keberhasilannya terus dikembangkan, dari satu kolam kemudian berkembang menjadi tiga. Ikan hasil budidayanya dibagi-bagikan ke tetangga dan sisanya di jual ke pasar dan dijajakan dengan sepeda kumbang. hingga namanya mulai dikenal orang.

 

Dan beritanya juga rupanya menarik perhatian Asisten Resident (penguasa wilayah Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda) yang berkedudukan di Kediri. Asisten Resident yang juga seorang peneliti tersebut kemudian melakukan penelitian mendalam tentang ikan spesies baru sekaligus mewawancarai Mbah Moedjair. Dan ternyata, berdasar hasil penelitian dan literatur yang ada, diketahui bahwa spesies ikan tersebut berasal dari perairan laut Afrika.

 

Karena keberhasilannya akhirnya, Asisten Resident memberikan nama ikan spesies baru ini sesuai dengan nama Mbah Moedjair yaitu Ikan moedair (mujair). Setelahnya Mbah Moedjair banyak menerima anugerah penghargaan dari berbagai pihak karena ikan hasil temuannya disukai banyak orang bahkan sudah mulai mendunia. Diantaranya dari Eksekutip Committee Indo Pasifik Fisheries Council pada tahun 1954 dan dari pemerintah Indonesia pada 17 Agustus 1951 dari Kementrian Pertanian RI.

 

Mbah Moedjair meninggal pada tanggal 7 September 1957 karena penyakit asma dan kemudian dimakamkan di Blitar. Dan untuk mengenang jasanya, batu nisan makamnya dituliskan “Moedjair, penemu ikan mudjair” lengkap dengan ukiran ikan mujair.