Sponsored Ad

Orang Betawi dan orang Tionghoa hidup berdampingan dan menjalin relasi berabad-abad. Namun orang Betawi zaman dulu tak memberi ucapan gongxi facai kepada orang Tionghoa saat tahun baru Imlek.

 

Budaya Betawi mengandung budaya Tionghoa berkat interaksi yang intens di tanah Jakarta. Perayaan tahun baru Imlek juga dirayakan bersama, salah satunya melalui tradisi antar-antaran ikan bandeng.

 

“Aktivitas yang dilakukan orang Betawi dan orang Tionghoa adalah nyari bandeng. Yang punya pacar harus bawa Bandeng (ke calon mertua),” kata sejarawan Betawi, JJ Rizal

Ada pasar malam ikan bandeng di Rawa Belong, Jakarta Barat, tiap Imlek. Di situ tak hanya orang Tionghoa saja yang membeli dan menjual bandeng, tapi orang Betawi juga punya tradisi yang menggunakan bandeng tiap Imlek.

 

Bandeng yang diberikan ke mertua atau calon mertua adalah bandeng mentah. Semakin gede bandeng, semakin besar simbol keberuntungan yang diberikan.

 

“Bandengnya segede-gede orok,” kata Rizal.

 

Ini adalah bentuk budaya peranakan. Dalam konteks Imlek, Betawi dan Tionghoa seperti tak berjarak. Perbedaan agama antarkomponen bukan jadi soal, karena ini tak ada hubungannya dengan ibadah agama. Ini sama saja dengan ikut sertanya orang Tionghoa dalam perayaan lebaran.

 

“Orang Betawi menganggap ini hari raya, tapi bukan hari raya agama lho. Ini festival kebudayaan, jadi nggak ada urusan dengan agama,” kata cendekiawan lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.

Namun pada era dulu, orang Betawi bukan menyebut ini sebagai tahun baru Imlek, melainkan Sin Tjia/Sin Cia, bermakna perayaan menyambut musim semi, ini erat kaitannya dengan perayaan kaum tani di Tiongkok. Pergantian musim, apalagi untuk petani yang hidup di negara empat musim sana, akan disambut dengan suka cita.

 

“Orang Betawi lebih kenal istilah Sin Tjia ketimbang Imlek,” kata Rizal.

 

Ada idiom Betawi yang menggambarkan keterputusan epistemik terkait kebudayaan, yakni ‘mati obor’. ‘Mati obor’ menjadikan orang Betawi tak lagi mengenali asal-usul yang sudah turun-temurun diwariskan. Sama halnya orang Betawi sekarang, menurut Rizal, pernah mengalami fase ‘mati obor’ saat Orde Baru, yakni saat budaya China mengalami represi dari penguasa. Pada fase itu seolah-olah tak ada hubungan antara tradisi Tionghoa dengan tradisi Betawi. Istilah Sin Tjia berganti dengan Imlek.

 

“Istilah Sin Tjia itu jauh lebih kultural. Sin Tjia itu punya gue (Betawi) juga, jadi antara orang Tionghoa dengan orang Betawi nggak ada jarak, karena ‘itu’ punya kita juga,” kata Rizal.

 

Tiap tahun baru Imlek dirayakan, ucapan ‘gongxi facai’ berdengung di mana-mana. Euforia kebebasan era reformasi membuat ucapan ‘gongxi facai’ lebih nyaring terdengar. Padahal dulu sebelum fase mati obor, Betawi tidak mengucapkan ‘gongxi facai’ ke Tionghoa.

 

“Orang Betawi juga lebih kenal ucapan Sin Tjun Kiong Hie daripada Gongxi Facai,” kata Rizal.

 

Dua ucapan selamat itu berbeda. ‘Sin tjun kiong hie/xinchun gongxi’ bermakna ‘selamat musim semi yang baru’ atau ‘selamat tahun baru’. Sedangkan ‘gongxi facai’ bermakna ‘selamat semoga banyak rezeki’.

 

“Sin tjun kiong hie adalah ungkapan selamat menyambut musim yang baru. Kalau gongxi facai artinya selamat menjadi kaya raya,” kata Rizal.

“Jadi gongxi facai itu lebih kapitalistik gitu lho. Padahal Sin Tjia aslinya adalah hari raya petani, tapi hari raya ini sekarang ‘dibajak’ sama orang kaya,” lanjut Rizal.

 

Menurut Rizal, ucapan sin tjun kiong hie masih lebih akrab di telinga generasi tua Betawi. Ini erat kaitannya dengan tradisi Hokkian yang dibawa ke Jakarta dan dikenal oleh orang Betawi. Namun ungkapan gongxi facaiyang bermakna selamat menjadi kaya raya datang jauh lebih belakangan, saat corak bagian China yang berorientasi modal sampai ke Indonesia pascareformasi, bukan China yang klasik seperti zaman dulu.

 

“Gongxi facai lebih baru, itu kan mengacunya kepada Hongkong. Kalau sebelumnya, itu lebih identik ke Hokkian yang sudah tua sekali sejarahnya dengan Indonesia,” kata Rizal.

 

Dihubungi terpisah, sinolog dari UI Agni Malagina menjelaskan bahwa Imlek itu sendiri berasal dari sistem kalender Yin Li berbasis peredaran rembulan. Sin Tjia atau Sin Cia adalah tahun baru menyambut bulan pertama dari kalender Yin Li.

 

Soal hubungan Tionghoa dengan Indonesia, itu memang sudah terjalin sejak lama. Etnis dari China yang mendominasi di Indonesia khususnya Pulau Jawa adalah Hokkian.

“Orang Hokkian yang paling banyak melakukan pelayaran, karena mereka di tepi pantai dan langsung mengarah ke Laut China Selatan, masuk ke Asia Tenggara. Kebanyakan dari mereka juga berprofesi sebagai pelaut dan pedagang,” kata Agni.

 

Para pelaut dan pedagang yang menetap di Nusantara mempertahankan tradisi asalnya, termasuk Sin Tjia. Perayaan itu digunakan untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. “Tahun baru ini kalau di sananya (Tanah Tiongkok) berhubungan dengan pergantian musim, menyambut musim semi dan mengakhiri musim dingin,” kata Agni.